Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Peribahasa yang dulu pernah ku pelajari di bangku sekolah. Terasa tepat rasanya ketika menimba pengetahuan nun jauh di negeri seberang. Perbedaan kultur, budaya dan cara berfikir terkadang menimbulkan gesekan-gesekan yang berwarna. Ada canda dan tawa, namun tak jarang pula banyak memancing emosi.
Diantara yang mengundang tawa misalnya, orang-orang di negeri Tunisia (sebuah negara kecil di utara afrika, bersebalahan dengan Libya dan Aljazair dan jarang orang Indonesia yang tahu, :D ) seringkali menganggap pelajar Indonesia asal Cina atau Jepang.
Acap ketika kebetulan bertemu, mereka memanggil kami, "Shinowwa, ni hao ma" mengira kami orang Cina dan menanyakan kabar dalam bahasa Cina. Dengan tertawa kami pun menimpali mereka dengan bahasa Cina (palsu) juga, "wong shen shong shung hai hai.." dst. Dan seketika kami akan tertawa karena mereka tidak paham, padahal kami hanya meniru gaya bicara orang Cina.
Tak jarang pula ketika bersibobok ketika berjalan-jalan di Habib Bourguiba Boulevard, suatu kawasan pusat perbelanjaan dan hotel di tengah kota, mereka menangkupkan kedua tangan di dada. Mengira kami semua menguasa ilmu beladiri ala negeri Tiongkok; Shaolin. Dan kami pun ikut-ikutan membalas dengan menangkupkan tangan seakan memberi hormat sambil tertawa di dalam hati. Itung-itung membuat senang orang Tunis. hehe. Atau kalau mereka memanggil kami, "Zapong zapong" alias mengira kami orang Jepang, kami jawab saja dengan "Ohayo Gozaimas" atau "Arigato".
![]() |
| Habib Bourguiba Boulevard, tempat kami jalan-jalan di Tunis. Gambar © en.wikipedia.com |
Khusus yang acap membuat kami tertawa itu sebenarnya bukan anggapan mereka kalau kami ini dari Cina atau Jepang. Tapi biasanya guyonan antar kami sendiri setelah mendapat panggilan dari mereka. Beberapa dari kami memang memiliki kulit putih kekuning-kuningan khas orang asia. Masalahnya adalah ketika kami yang berkulit sawo matang ini yang dipanggil orang China, orang Jepang atau bahkan orang Korea. Dilihat dari mana nya coba? Mata ngga terlalu sipit-sipit amat kan? Kulit sawo matang? Dilihat dari bulan mungkin. Hahaha.
Makna 'Ghodwah' versi 'Arob Vs 'Ajam
Bagi orang non Arob alias 'ajam seperti kami pelajar Indonesia, soal ketepatan waktu menjadi barang yang cukup mahal di tanah air. Negara Indonesia masih jauh untuk berdisiplin waktu dibanding negara-negara tetangga semisal Singapura. Namun, di negeri Arob Tunsi ketepatan waktu adalah barang LANGKA! Apalagi jika sudah keluar kata "Ghodwah" alias besok.
Ya, membincang negeri tempat kita menumpang untuk sekedar jalan-jalan atau menimba ilmu berarti harus siap dengan segala sengkarut budaya yang lahir dan tumbuh di dalam masyarakat setempat. Tak terkecuali orang Tunis yang notabene sudah ke-arab-araban. (Note: rang Tunis asli adalah suku barbar, yang berasimiliasi dan bercampur menjadi Arab Tunis, tak jarang pula yang berdarah Eropa macam Prancis, Italia, atau Spanyol buah dari penjajahan eropa ke negeri-negeri Ghorbul 'Arob).
Sudah menjadi rahasia umum di kalangan warga Indonesia, khususnya yang pernah tinggal atau mampir di negeri Arab, kalau masyarakat arab itu secara umum dikenal sebagai orang yang tidak dapat dipegang kata-katanya. Khususnya terkait masalah janji pertemuan.
Awalnya, saya juga tidak pernah membayangkan akan menghadapi hal-hal seperti ini. Mengingat paman saya yang lama di negeri Saudi Arabia saja, watak nanti dan besok-nya saja sudah mirip orang Arab. Bagaimana tidak, ketika berujar sebentar lagi, maka artinya masih lama. Jika berucap setengah jam lagi, bermakna lebih dari satu jam. Kalau mengatakan besok ya berarti bisa minggu depan, atau bulan depan.
Seperti itu pula yang terjadi beberapa hari belakangan ini ketika mengurus administrasi di Institut Superieur de la Civilisation Islamique de Tunis, Université Ezzitouna atau Institut Peradaban Islam, Universitas Az-Zaituna, Tunis.
![]() |
| Université Ezzitouna atau Universitas Az-Zaituna. Gambar © en.qantara.de |
Sudah seminggu ini saya bolak-balik kampus hanya untuk mendapatkan tanda tangan dari sekretaris umum institut. Kesal, sudah pasti. Dongkol, tidak terkira. Tapi marah dan murka juga bukan jalan terbaik sepertinya. Toh sudah didesak-desak juga entah dengan alasan apa sang sekretaris ini tidak bergeming. Jadi alih-alih sekedar menunggu ketidakpastian, toh perkuliahan juga belum dimulai, lebih asyik jika menghabiskan waktu menulis di blog seperti ini atau membaca buku-buku di perpustakaan (kalau tidak malas, hehe).

