Tidak ada yang istimewa dengan perayaan hari besar di Tunisia, apalagi dengan hari besar agama. Tunisia semenjak kemerdekaan telah lama meninggalkan simbol-simbol agama dari kelembagaan pemerintahan. Belum sempat menelisik lebih jauh sabab musababnya.
Meski begitu, kalau dengan adanya hari besar agama kemudian bermakna libur nasional, mau tidak mau ‘hari besar agama’ harus dilestarikan. Seperti hari ini, 14 Oktober 2015 yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharrom 1437 Hijriyyah.
Momen liburan banyak ditunggu sebagian kawan, untuk bersantai sejenak dari kesibukan perkuliahan. Perkuliahan nan membosankan khas ceramah dosen sepanjang hari. Seakan tak ada cara lain mengajar selain dengan berceramah.
Inisiatif pengurus Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) mengisi liburan awal tahun baru hijriyah cukup manjur. Kami para mahasiswa punya aktivitas di luar yang menggembirakan.
Sepagian hape berdering senyap. Kebiasaan, hape dalam kondisi silent. Jauhari kawan serumah menarikku dari alam mimpi. ‘Bang Ahya nelpon!’ Sadar semalam memprovokasi kawan PPI lain berbelanja sepagi mungkin, ku jawab sekenanya. Dan mau tidak mau harus bergegas ke sekretarian PPI.
Bersama empat kawan mahasiswa, Ahya, Ariandi, Sofyan dan Yasin. Menuruni gang sempit di pemukiman menuju pasar berjarak tak kurang dari setengah kilo. Warga Tunisia sudah ramai menyemut di tempat-tempat favorit mereka.
Tak perlu waktu lama menghabiskan uang kisaran 500-600 ribu di pasar. Kami berbagi tugas belanja. Sejenak, tangan kami membawa plastik-plastik besar berisi daging ayam, beras, sayur dan buah. Tak lupa membeli sarapan croisant isi coklat yang nikmat.
Usai belanja yang melelahkan, ditemani cuaca Tunisia yang masih menyengat, rumah adalah tempat kembali yang nyaman. Kang Dede, kandidat doktor Universtitas Zaituna sudah beranjak menuju beberapa destinasi bareng dosen-dosen POSFI. Girah membaca yang tak menentu, kulemparkan tubuh di hadapan laptop. Mengangankan keingingan yang tak pernah puas. Ya Allah, inilah hambamu. Beramal seperti yang engkau perintahkan. Anugrahi aku kerelaan dengan apa pun yang kau tetapkan atasku. Aamin.
O ya, malam ini kami adakan silaturohim dengan beberapa dosen Indonesia yang sedang bertugas di Tunisia. Enam dosen tugas Postdoctoral Fellowship Program for Islamic Higher Education (POSFI) dari Kemenag. Dua dosen tugas dari Fakultas Syariah dan Hukum UIN Suska Riau. Dan tak terasa, seusai pembacaan hamdalah, perut ini mendadak penuh. Hidangan opor ayam olahan koki Farhan, kawan PPI yang masyhur pandai memasak, ludes tinggal belulang.
Dan kantuk pun membelai. Selamat malam.



